Monchicchi’s Weblog


Live In

Pengalaman Menarik Saya Ketika Live In

Wah…. bercerita menegenai pengalaman saya di live in yang saya ikuti sebagaiacara sekolah, bisa di bilang cukup senang, sedih, dan kesal.

Mulanya sih saya merasa bahwa saya sangat malas mengikuti acara yang seperti ini, karena di benak saya itu bahwa yang namanya “live in” itu sangat lah membosankan, apa lagi yang katanya bermanfaat untuk kita sendiri, misalnya meningkatkan rasa solidaritas saya. Kata kakak kelas saya sih live in itu tidak menyenangkan. Kita harus mengurus binatang, kita harus tinggal di desa, kita harus bekerja yang keras, wah saya mah malas sekali kalau melakukan aktifitas seperti itu. Ya akhirnya mau tidak mau saya harus ikut karena saya sudah membayar uang untuk megikuti kegiatan ini.

Nah saya ingin menceritakan pengalaman saya pada saat saya mengikuti live in. Ada banyak hal yang terjadi ketika saya berada di jogja, ada yang bersama teman, guru, dan warga di sana. Saya tidak pernah merasakan rasa solidarisat, kekompakan, dan kerukunan warga desa di kota jakarta. Mereka juga sangat baik pada orang yang baru datang di desa mereka, mereka menyambut kami dengan hangat ketika kami datang ke desa mereka. Pekerjaan mereka di desa kebanyakan berternak kambing dan ladang, biasanya satu ekor kambing bisa mencapai hingga 8 juta rupiah per ekor, namun  mereka sangat berkerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saya merasa bahwa hidup saya itu sudah sangat mencukupi.

saya tinggal di desa dukuh, di sana hanya ada 8 anak yang tinggal. Saya memeiliki teman wanita saya yang berada di meranggen, meranggen itu berada pada ujung timur, sedangkan dukuh itu berada di ujung barat. Saya mencari teman saya itu hingga 3.5 KM dengan cara jalan kaki. Wah itu baru satu hari dari 3 hari, sungguh hal yang melelahkan. Saya juga membantu anak anak sekolah di desa dukuh, seperti membagikan bantuanberupa buku tulis bersama bapak dan ibu guru saya di sekolah, saya sangat senag bisa membantu mereka.

Ada juga pengalaman saya tersesat di hutan bersama teman dan guru saya, setelah berjoging pagi tepat nya jam 4 sampai jam setengah  7 pagi saya ingin pulang kerumah, namun kami bertemu guru dan kami di ajak ke meranggen, saya sudah sangat capek sehabis lari pagi, setelah dari sana, kebetulan adateman saya yang tinggal di dukuh juga, jadi kami bertiga ingin jalan pulang. Nah, kami di usul oleh guru tersebut untuk melewati jalur hutan, kira kira hampir 1 jam kami tersesat, untungnya kami bertannya kepada warga yang berada di sekitar sana dan akir nya kami pun pulang ke rumah kami masing masing. Yang harus nya saya pulang jamsetengah 7 malah menjadi jam setengah delapan pulangnya, dan saya pu  di marahi oleh induk semag saya karena tidak menepati janji.

Saya juga membantu induk semang saya di ladang dan memberi makan kambig, wah pada saat di ladang saya tidak bisa membantu apa apa karena saya tidak pernah melakukannya, untung nya teman saya jago dalam bekerja seperti itu, jadi saya belajar dari dia. Di desa itu juga di adakan acara memperingati hari kemerdekaan loh, mereka mengadakan acara wayang yang di ada kan di balai desa. Saya juga menontonnya, namun hanya dalam waktu 15 menit saya langsung pulang karena tidak mengeti hal yang seperti itu.

Seperti itulah kisa saya pada saat saya mengikuti Live In sekolah saya, sanagat mengesankan, jika saya di beri kesempatan satu kali lagi, saya pasti akan mengikutinya kembali.

 

Oleh : Chuandata Dermawan


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>